Remaja Aktor Pembangunan Negara Berkelanjutan

Foto: Anton

Batam, BKKBN Kepri – Perwakilan Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Kepulauan Riau menyelenggarakan kegiatan webinar, Mewujudkan Remaja Millenneal Melalui Generasi Berencana yang dilaksanakan secara daring/online selama 3 hari yang dimulai pada hari ini selasa, 8 – 10 September 2020 dengan menghadirkan narasumber yang berasal dari internal BKKBN serta Mitra Kerja dan instansi terkait diantaranya Ka. Dinas Pendidikan Prov. Kepri, Ka. Dinas Pariwisata, Ka LAM Prov. Kepri, Public Speaking dan Piskolog.

Kegiatan webinar Mewujudkan Remaja Millenneal Melalui Generasi Berencana dibuka langsung oleh Kepala BKKBN RI yang dalam hal ini diwakili oleh Deputi Bidang Pengendaian Penduduk Ibu DR. Ir. Dwi Listyawardani, M.Sc. Dip.com yang juga menjadi Narasumber dalam kegiatan tersebut.

Ia menyampaikan Remaja adalah calon aktor/pelaku utama pembangunan saat mereka memasuki Bonus Demografi “dan Remaja juga akan mamasuki fase memulai berkeluarga, akan menjadi pasangan suami-istri dan menjadi orang tua bagi generasi yang dilahirkannya”, terangnya, juga lanjut menjelaskan bahwa ketahanan keluarga akan melahirkan generasi yang berkualitas, “remaja saat ini harus disiapkan supaya siap menjadi orang tua,” paparnya menegaskan.

Susenas 2017

Era tahun 2020, generasi millennial berada pada rentang usia 20 tahun hingga 40 tahun (usia produktif). Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Tahun 2017 jumlah generasi milenial sudah dominan dibandingkan generasi lainnya, jumlah generasi milenial mencapai sekitar 88 juta jiwa atau 33,75 persen dari total penduduk indonesia.

Generasi milenial yang saat ini merupakan aktor utama dari Bonus Demokrasi sehingga harapan memiliki kualitas yang baik dari sisi pendidikan, kesehatan dan pekerjaan.

Lebih dari setengah generasi milenial berstatus kawin, menurut data Susenas 2017 lebih dari setengah generasi milenial atau 54,45% telah berstatus kawin, ini berarti ada 4 range yang masih melajang dari 10 orang generasi milenial atau terdapat 1,78 persen generasi milineal yang cerai hidup dari pasangannya.

Rata-rata umur menurut perkawinan pertama generasi milenial adalah 21,99 tahun, tetapi sebagian lainya mungkin menikah di usia lebih muda. Resiko sex pernikahan dan pernikahan dini pada generasi milenial, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tampilan data pada tahun 2015 pernikahan dini di Indonesia, khususnya perempuan yang menikah di rata-rata dibawah usia 18 tahun tercatat sebesar 23 persen memiliki resiko dan rentan.

Resiko Pernikan Dini

Kesehatan Reproduksi, jika ibu melahirkan masih dibawah usia 20 tahun risiko kematian ibu bisa 5 sampai 7 kali lebih besar, segi pengasuhan Anak mereka yang belum siap secara pekerjaan dan penghasilan karena baru lulus sekolah, dikhawatirkan akan mengalami kesulitan ekonomi.

Rentan terhadap kekerasan dan perceraian, emosi yang belum stabil pada anak yang menikah diusia dini rentan terhadap terjadinya pertikaian dan kekerasan yang berujung pada perceraian, belum lagi ditambah dengan resiko putusnya pendidikan formal.

Dibidang pendidikan, pernikahan dini mengakibatkan remaja yang melakukan pernikahan dini sulit untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi.

Defini Remaja adalah Penduduk Indonesia laki-laki dan perempuan, usia 10 s/d 24 Tahun dan Belum menikah. Remaja merupakan individu yang akan berkelanjutan dalam tiap fase kehidupan dan akan berlajut pada membangun rumah tangga yang harus memiliki perencanaan berkeluarga agar mampu membangun keluarga berkualitas dan melahirkan generasi mendatang yang juga berkualitas.

Remaja perlu disiapkan untuk menjadi calon pasangan yang akan membangun bahtera rumah tangga dan akan menjadi orang tua, dari tiap anak yang dilahirkan. Remaja merupakan individu-individu bagi asset bangsa yang pada saatnya akan menjadi aktor utama pembangunan.

“Remaja untuk dapat menjadi aktor utama pembangunan remaja harus menjadi SDM berkualitas. Remaja perlu disiapkan untuk menjadi penduduk usia produktif yang akan menjadi aktor/pelaku utama pembangunan,” terang Deputi Dalduk BKKBN.

Namun demikian kondisi remaja saat ini bukan tanpa tantangan, Masih ada permasalahan yang mengancam remaja terutama yang terkait dengan kesehatan reproduksi dan gizi yang akan berdampak pada lualitas sebagai aktor pembangunan dan kesiapannya dalam membangun keluarga. Puberitas/kematangan Seksual yang semakin dini (aspek internal) dan aksesibilitas terhadap berbagai media serta pengaruh negatif sebaya (aspek eksternal) menjadi remaja rentan terhadap perilaku seksual beresiko. dengan demikian, remaja menjadi rentan mengalami kehamilan diusia Dini, kehamilan diluar nikah, kehamilan tidak diinginkan dan terinfeksi penyakit menular seksual hingga aborsi yang tidak aman.

Tujuan Pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan wawasan Konselor Sebaya(KS) dan Pendidik Sebaya (PS) dalam melaksanakan pengembangan kelompok Pusat Informasi Konseling Remaja ( PIK R), meningkatkan peran Forum GenRe Kepri dan GenRe kab/kota dalam mingkatkan capaian Program Ketahanan Remaja, dan meningkatkan kualitas pengelolaan Program Ketahanan Remaja.

Keluaran yang diharapkan dari proyek ini adalah `Penguatan peran PIK Remaja dan kelompok BKB dalam edukasi Kespro dan Gizi bagi remaja putri sebagai calon ibu di 236 kelompok` indikator keberhasilannya adalah jumlah PIK Remaja dan BKR dari target 236 kelompok yang melaksanakan edukasi tentang Penyiapan Perencanaan Kehidupan Berkeluarga termasuk didalamnya substansi Kespro dan Gizi. (ant)